Thailand, 1 September 2026 — Program magang mahasiswa TRPL Undiksha di KGEO KMUTT Thailand kembali dilaksanakan melalui Thailand Internship Batch 5 Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai 1 September hingga 31 November 2026 ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik, profesional, dan internasional mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam proyek teknologi dan isu pembangunan berkelanjutan.
Pada Batch 5 tahun ini, mahasiswa mendapatkan tantangan untuk mengembangkan solusi teknologi dengan mengangkat tema besar “Water Resilience”, khususnya bagaimana teknologi digital dan geospasial dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan berkelanjutan. Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing Kadek Yota Ernanda Aryanto, dengan mahasiswa I Kadek Yudi Artana sebagai peserta magang.
Mengawali Magang dengan ESG Symposium – BLUE SHIFT – 2026
Rangkaian kegiatan diawali dengan partisipasi dalam ESG Symposium – BLUE SHIFT – 2026, yang membahas isu strategis terkait climate adaptation, water resilience, dan water economy. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh perspektif bahwa air tidak hanya dipandang sebagai sumber daya yang perlu dikelola, tetapi juga sebagai aset strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Pembahasan mengenai water resilience memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya membangun kemampuan suatu wilayah dalam menghadapi tekanan terhadap sumber daya air, baik yang disebabkan oleh perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, perubahan penggunaan lahan, maupun berbagai faktor lingkungan lainnya.
Melanjutkan Pengembangan Web GIS
Salah satu fokus kegiatan magang Batch 5 adalah melanjutkan pengembangan proyek Web GIS yang telah dikembangkan pada periode sebelumnya oleh Ni Luh Suryani Agustini. Pengembangan Web GIS diarahkan untuk mendukung penyediaan informasi geospasial yang dapat membantu memahami kondisi wilayah dan sumber daya air. Platform ini diharapkan tidak hanya menjadi media visualisasi data spasial, tetapi juga berkembang menjadi sistem yang mampu mengintegrasikan berbagai sumber data untuk mendukung analisis dan pengambilan keputusan. Pengalaman dari proyek-proyek sebelumnya menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dalam pengelolaan data geospasial, pemrograman web, analisis spasial, serta penyajian informasi berbasis peta.

Tantangan Baru: Integrasi Remote Sensing untuk Water Resilience
Selain melanjutkan proyek Web GIS, mahasiswa pada Batch 5 mendapatkan tantangan baru berupa pengembangan fitur berbasis remote sensing (penginderaan jauh). Teknologi remote sensing memungkinkan kondisi permukaan bumi dipantau menggunakan data citra satelit secara periodik. Data tersebut dapat diolah untuk menghasilkan berbagai informasi yang relevan dengan isu water resilience, seperti perubahan tutupan lahan, kondisi vegetasi, kelembapan, kondisi badan air, serta indikator lingkungan lainnya. Integrasi teknologi ini dengan Web GIS membuka peluang untuk menghadirkan informasi spasial yang lebih dinamis dan berbasis data.

Dengan demikian, proyek tidak berhenti pada visualisasi lokasi dan data, tetapi mulai diarahkan pada kemampuan untuk mengolah, menganalisis, dan menyajikan informasi hasil penginderaan jauh sebagai bagian dari sistem pendukung pengambilan keputusan.
Belajar dari Para Ahli dan Menghasilkan Ide Baru
Kegiatan magang internasional ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkontribusi melalui ide dan perspektif baru. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta yang menerima pengetahuan, tetapi juga didorong untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan nyata melalui kemampuan akademik dan teknologi yang mereka miliki.
Interaksi dengan para ahli, akademisi, praktisi, dan peserta dari berbagai latar belakang menjadi pengalaman penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan teknologi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan teknis, tetapi juga mengenai bagaimana teknologi dapat memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat.
Kegiatan magang yang berlangsung hingga 31 November 2026 ini diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan kompetensi mahasiswa, tetapi juga melahirkan gagasan, prototipe, dan inovasi teknologi yang dapat terus dikembangkan untuk mendukung water resilience dan pembangunan berkelanjutan.









